Mahulu Pamer Teknologi Tepat Guna, Dari Dongkrak Banjir Hingga Biosolar
Wakil Bupati Mahakam Ulu, Suhuk berfoto bersama Kelompok Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA)
Kutai Barat - Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu menampilkan sejumlah inovasi teknologi tepat guna dalam Gelar Teknologi Tepat Guna XII tingkat Provinsi Kalimantan Timur. Inovasi yang dibawa antara lain alat pencacah dan dongkrak multifungsi yang dirancang untuk membantu masyarakat menghadapi kondisi wilayah yang kerap terdampak banjir.
Wakil Bupati Mahakam Ulu Suhuk mengatakan teknologi yang ditampilkan dalam ajang tersebut tidak hanya ditujukan sebagai produk pameran. Pemerintah daerah ingin memastikan inovasi yang dikembangkan memiliki kegunaan praktis dan dapat menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Suhuk menyampaikan hal itu saat mewakili Bupati Mahakam Ulu Angela Idang Belawan dalam pembukaan Gelar TTG XII di Taman Budaya Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, Selasa, 21 Juli 2026. Kegiatan tersebut berlangsung selama empat hari, 20 hingga 23 Juli 2026, dan diikuti pemerintah kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
"Untuk tahun ini Mahulu membawa beberapa inovasi, di antaranya alat pencacah dan alat dongkrak multifungsi. Alat dongkrak ini sangat relevan dengan kondisi wilayah Mahulu yang kerap mengalami banjir," kata Suhuk.
Menurut dia, dongkrak multifungsi tersebut dirancang untuk membantu warga memindahkan barang ke tempat yang lebih tinggi ketika banjir terjadi. Alat itu diharapkan dapat digunakan masyarakat secara mandiri, terutama ketika anggota keluarga yang biasa membantu pekerjaan fisik sedang tidak berada di rumah.
"Fungsinya untuk membantu mengangkat barang-barang ke tempat yang lebih tinggi saat terjadi banjir, sehingga masyarakat, khususnya ibu-ibu yang berada di rumah ketika suaminya bekerja di luar daerah, dapat lebih mudah menyelamatkan barang-barang berharga," ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan pendekatan yang ingin dibangun pemerintah daerah dalam pengembangan teknologi tepat guna. Teknologi tidak harus berupa perangkat berbiaya tinggi atau menggunakan sistem rumit. Nilainya justru terletak pada kemampuan menjawab kebutuhan yang spesifik di masyarakat.
Namun, sebuah alat baru dapat disebut berhasil sebagai teknologi tepat guna apabila tidak berhenti pada tahap pembuatan dan pameran. Pemerintah perlu memastikan perangkat tersebut mudah digunakan, aman, tersedia dalam jumlah memadai, memiliki biaya produksi dan pemeliharaan yang terjangkau, serta benar-benar digunakan masyarakat ketika menghadapi persoalan yang hendak diatasi.
Mahakam Ulu memiliki karakter wilayah yang membuat persoalan akses, transportasi, dan kondisi lingkungan menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pengembangan teknologi lokal yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi ketergantungan terhadap perangkat yang tidak dirancang berdasarkan kebutuhan setempat.
Selain teknologi, Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu membawa produk unggulan usaha mikro, kecil, dan menengah dari sejumlah kampung untuk ditampilkan dalam kegiatan tersebut. Produk UMKM menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah memperkenalkan potensi ekonomi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Suhuk mengatakan pengembangan UMKM diarahkan agar produk masyarakat Mahakam Ulu tidak hanya beredar di pasar lokal. Pemerintah berharap produk tersebut dapat dikenal di luar daerah dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan pelaku usaha.
"Kami terus mengembangkan produk-produk UMKM agar semakin dikenal di luar daerah. Harapannya, melalui produk-produk ini perekonomian masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga dan pelaku UMKM, dapat terus meningkat," ujar Suhuk.
Pameran produk lokal dapat menjadi sarana promosi, tetapi memperluas pasar UMKM membutuhkan lebih dari sekadar keikutsertaan dalam pameran. Pelaku usaha perlu memastikan kapasitas produksi, kualitas, kemasan, kontinuitas pasokan, legalitas produk, serta kemampuan memenuhi permintaan ketika pasar mulai berkembang.
Tantangan tersebut penting karena promosi tanpa kesiapan produksi dapat menciptakan persoalan baru. Produk yang menarik perhatian konsumen tetapi tidak tersedia secara konsisten akan sulit membangun pasar. Sebaliknya, peningkatan produksi tanpa strategi pemasaran berisiko membuat barang tidak terserap.
Karena itu, pengembangan teknologi tepat guna dan UMKM dapat ditempatkan dalam satu rantai ekonomi. Teknologi dapat membantu meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya produksi, mengolah bahan baku, atau menghasilkan produk baru dari sumber daya lokal. UMKM kemudian menjadi salah satu jalur untuk mengubah inovasi tersebut menjadi kegiatan ekonomi.
Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu juga mengembangkan inovasi dengan memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Salah satu yang disebut Suhuk adalah pembuatan paving block yang dilakukan melalui kerja sama dengan instansi terkait.
Inovasi tersebut masih menghadapi persoalan ketersediaan bahan baku. Menurut Suhuk, keterbatasan bahan membuat produksi paving block belum dapat dilakukan dalam skala besar.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pengembangan teknologi tepat guna tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membuat sebuah produk. Ketersediaan bahan baku, biaya produksi, kapasitas teknologi, sumber daya manusia, hingga pasar menjadi faktor yang menentukan apakah inovasi dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Pemerintah daerah menyatakan penelitian dan pengembangan paving block tersebut tetap dilanjutkan. Pengembangan teknologi berbasis limbah juga memiliki dua kepentingan sekaligus, yakni mengurangi persoalan lingkungan dan menciptakan nilai ekonomi baru.
Jika berhasil dikembangkan, pendekatan tersebut dapat menjadi contoh bagaimana persoalan sampah dan limbah tidak hanya diperlakukan sebagai masalah yang harus dibuang, tetapi juga sebagai bahan yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai.
Meski begitu, aspek kelayakan teknis dan ekonomi tetap perlu menjadi dasar. Tidak semua limbah dapat secara otomatis diolah menjadi produk yang kompetitif. Kualitas bahan baku, proses produksi, ketahanan produk, biaya pengolahan, serta permintaan pasar perlu diuji sebelum inovasi diperluas.
Selain paving block, pemerintah daerah juga menyebut penelitian dan pengembangan pembuatan biosolar yang dilakukan bersama Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga. Pengembangan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperbanyak inovasi teknologi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
"Saat ini kami juga masih melakukan pengembangan dan penelitian bersama TP PKK terkait inovasi lainnya, pembuatan Biosolar, sehingga ke depan diharapkan semakin banyak teknologi tepat guna yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan memberikan nilai tambah bagi pembangunan daerah," kata Suhuk.
Pembuatan biosolar merupakan salah satu inovasi yang membutuhkan pengujian lebih lanjut sebelum dapat dinilai layak diterapkan dalam skala luas. Selain aspek teknis, kualitas bahan bakar, efisiensi, keamanan, biaya produksi, dan kesesuaian dengan ketentuan yang berlaku harus menjadi pertimbangan.
Gelar TTG XII tingkat Provinsi Kalimantan Timur menjadi ruang bagi Mahakam Ulu untuk memperkenalkan inovasi sekaligus melihat perkembangan teknologi dari daerah lain. Forum semacam ini juga memungkinkan pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat bertukar pengalaman mengenai teknologi yang dapat diterapkan di tingkat lokal.
Bagi pemerintah daerah, partisipasi dalam ajang tersebut diharapkan tidak berhenti pada pencitraan produk. Nilai strategisnya justru terletak pada kemampuan membawa inovasi dari ruang pameran ke masyarakat.
Teknologi tepat guna pada akhirnya harus diuji oleh kebutuhan sehari-hari. Dongkrak multifungsi harus benar-benar membantu warga ketika banjir. Alat pencacah harus mampu meningkatkan efisiensi kerja. Paving block berbahan limbah harus memiliki kualitas dan pasar. Sementara inovasi biosolar harus mampu membuktikan kelayakan teknis dan ekonominya sebelum diperluas.
Ukuran keberhasilan inovasi Mahakam Ulu karena itu bukan jumlah alat yang dipamerkan, melainkan manfaat yang dapat dirasakan setelah pameran berakhir. Pemerintah daerah memiliki pekerjaan berikutnya untuk memastikan inovasi tersebut memperoleh pendampingan, pengujian, pembiayaan, dan akses pasar yang memadai.
Jika rangkaian itu dapat berjalan, Gelar TTG bukan sekadar agenda tahunan untuk mempertontonkan produk inovasi. Ia dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan teknologi berbasis kebutuhan lokal sekaligus memperkuat UMKM sebagai bagian dari ekonomi masyarakat Mahakam Ulu. (ADV)